Tari Rejang Lilit adalah tari bidadari Pulau Bali yang biasanya dipentaskan oleh para teruni desa dengan gerak tubuh gemulai dalam mengiringi sebuah ritual suci. Gerak tari ini memiliki pakem tarian yang agak unik dan berbeda sesuai dengan tempat - tempat suci di Bali. Tarian ini rutin dilaksanakan saat perayaan Umanis Kuningan seperti halnya Tari Rejang Lilit Jasri yang dapat ditontong di Pura Desa Pakraman Jasri, Karangasem, Bali.
Sebagai bentuk persembahan untuk dewa dan dewi yang ada di Pura desa, itulah makna dan tujuan dari dilaksanakannya ritual tersebut. Tarian Rejang ini sendiri tidak hanya milik Desa Pakraman Jasri, beberapa desa adat lainnya di Bali pun memiliki ritual ini, hanya ada yang berbeda dari masing-masing tempat.
“Banyak juga desa adat di Bali ini yang memiliki ritual Tarian Rejang seperti ini. Namun, di Jasri ini kami punya satu pakem tari yang agak unik, yang disebut dengan mabuang,” ujar Nyoman Sutirtayasa, Bendesa Adat Desa Pakraman Jasri. Pada tari mabuang ini ada gerakan kaki yang memutar-mutar yang juga tampak seperti melililit.
Oleh karena itu, menurut Sutirtayasa, ritual ini juga kerap disebut dengan Rejang Lilit. Diadakan jelang sore hari, yakni sekitar pukul 16.00 Wita, para teruni yang tampil cantik dengan riasan wajah dan mahkota dari bunga-bunga, bersiap untuk melaksanakan ritual satu ini, dimulai dari area Pura Puseh Pakraman Jasri.
Ada 3 tahapan dalam Tarian Rejang, antara lain, yang pertama adalah prosesi ngerejang, kedua adalah mabuang, dan yang ketiga adalah ngelegong.

